Globalisasi dengan kemajuan teknologi informasi yang kini semakin canggih, kiranya dapat memacu segenap IP3DS muda untuk mampu bangkit lebih baik lagi. Tentunya, hal ini tidak terlepas dari beberapa komponen yang menjadi syarat mutlak guna menjadi santri sejati yang siap sukses di masa depan nanti. Hubbul Ma’had yang sejati-nya menjelma dalam pikiran dan hati setiap santri yang hingga pada akhirnya mengkristal dalam setiap jiwa santri tersebut.
Akan tetapi, betapa hati tidak menjerit terhimpit, relung jiwa terguncang, & harga jiwa santri tercabik sakit, ketika saya bahkan kita melihat eksistensi moralitas mereka telah mengalami Krisis Akhlak & degradasi moral. Seringkali kita membanggakan Daarussa’adah tempo dulu yang mungkin jauh lebih baik dari sekarang[1], bukan saya menafikan atau menilai kekurangan yang ada, saya pribadi-pun turut bersuka-cita, namun apalah arti sebuah kebanggaan tempo dulu jika saat ini kita sendiri seakan tidak ter-ilhami bahkan untuk menjaga sekalipun seakan tak Mampu. Tidak sedikit terbayangkan segudang kendala yang ada di benak dan mungkin kita-pun masing-masing memendam-nya, saat kita melihat seorang santri yang seakan telah hilang etika kepada guru-gurunya bahkan mungkin kepada kyai-nya sendiri, pupus-nya rasa hormat kepada yang lebih tua, menghargai kepada sesama dan menyayangi yang lebih kecil seakan sudah tak tersirat lagi. Dan bukan hanya itu, berapa banyak santri yang Junior (MTs) yang seringkali tidak merasa nyaman ada di pondok alias (gak betah) dan lain sebagai-nya dikarenakan sikap kurang baik dari kakak kelasnya.
Kiranya hal diatas mampu menjadi cambuk yang melucut diri kita untuk bertanya dengan sunguh-sungguh & disertai jiwa Ruhul Ma’had, ADA APA DENGAN DAARUSSA’ADAH? Buku yang sederhana ini akan mencoba untu memaparkan apa yang telah terjadi berikut penanganan Ideal & Kondusif SEPERTI SEHARUS-NYA.
[1] Kongres beberapa alumni terkait kenyamanan Daarussa’adah. 23 januari 2014








